Drug Utilization Review of Antibiotics in Geriatric Outpatients at Cilacap Regional General Hospital During the COVID-19 Pandemic
DOI:
https://doi.org/10.30867/jifs.v5i2.850Kata Kunci:
antibiotic, COVID-19, drug utilization, geriatrics, IndonesiaAbstrak
Penyakit infeksi merupakan tantangan bagi geriatri karena risiko infeksi yang lebih tinggi dan gejala yang tidak lazim, yang menyebabkan ketidakpastian diagnostik. Penelitian ini mengevaluasi pola penggunaan antibiotik pada pasien rawat jalan geriatri di Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap, Indonesia, selama pandemi COVID-19. Sebuah studi retrospektif menganalisis rekam medis elektronik pasien rawat jalan geriatri (≥65 tahun) yang menerima antibiotik dari Januari hingga Desember 2021. Data demografi, rincian antibiotik, kode ICD-10, dan penggunaan antibiotik musiman dikumpulkan dan diperiksa berdasarkan subkelompok usia. Sebanyak 7.539 pasien rawat jalan, 733 pasien geriatri (usia 65 tahun ke atas) menerima antibakteri sistemik (kelompok ATC J01). Penggunaan tertinggi adalah di antara pria berusia 65-69 tahun. Bentuk oral padat lebih disukai daripada bentuk cair atau parenteral. Khususnya, 80,1% resep adalah untuk antibiotik kelompok Watch yang berisiko tinggi, dan hanya 16,1% untuk kelompok Access lini pertama yang direkomendasikan. Antibiotik yang paling banyak diresepkan adalah sefiksim (34%) dan levofloksasin (22,5%). Diagnosis yang paling umum adalah kode ICD-10 Z098. Penggunaan antibiotik mencapai puncaknya pada bulan November (65-69 tahun), Desember (70-74 tahun), Juni (75-79 tahun), dan Maret (≥80 tahun). Seringnya penggunaan antibiotik spektrum luas seperti sefalosporin dan fluoroquinolon pada pasien rawat jalan geriatri meningkatkan risiko resistensi antimikroba. Untuk menanggulanginya, pengelolaan antimikroba yang lebih baik, pemantauan yang kuat, dan upaya edukasi sangatlah penting.












